Tasikmalaya + Pohon Plastik = Jadi Apa ?

Penanaman pohon plastik di median Jalan HZ Mustofa oleh Perumahan Umum dan Area Permukiman dianggap tidak konsisten dengan program Ruang Terbuka Hijau .

Apalagi penerapan ruang terbuka hijau di Kota Tasikmalaya belum menyentuh 30 persen.

“Tidak benar jika ruang terbuka seperti itu dihiasi pohon plastik. Tidak tepat, apalagi ruang terbuka hijau kita masih jauh dari 30 persen.

Tasikmalaya + Pohon Plastik = Jadi Apa ?

http://bit.ly/Radardoc

Kalau di hotel, pakai plastik itu oke,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya.

Menurut dia, itu akan baik untuk lahan di median jalan yang akan digunakan untuk reboisasi.

Sehingga bisa memenuhi kebutuhan ruang terbuka hijau.

Selain lebih bermanfaat bagi kesehatan, suasana kota menjadi indah dan rimbun.

“Saya belum pernah melihat area terbuka hijau lain yang dipenuhi dengan pohon plastik.

Ini tidak baik juga, kami akan meminta Komisi III untuk mengevaluasinya.

Cukup kembalikan kota ke teduh tetapi juga enak dipandang,” katanya.

Politisi PDI-P menyebutkan kondisi suhu kota reaktif yang semakin memanas, idealnya menjadi perhatian.

Kantor teknis yang ingin melaksanakan program pembangunan menyentuh aspek ramah lingkungan tidak hanya memprioritaskan sisi estetika. “Hiasi juga jika itu tepat, bagus.

Sekarang, itu bukan titik yang tepat,” kata Muslim.

Dia mengajarkan munculnya ornamen baru di dua Jalan HZ Mustofa yang mencuri perhatian publik.

Meskipun kebanyakan dari mereka mengkritik daripada menghargai.

“Ya, inovasi tidak apa-apa. Tapi dengan tampil seperti itu, seperti tidak ada yang bisa mengelola urusan kebun. Sisi keindahan juga kurang, hanya selamat malam,” katanya dengan tegas.

Di sisi lain, Ketua Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya H Heri Ahmadi mengatakan dia tidak tahu dari awal program pengaturan jalan median mengarah pada penggunaan bahan plastik di ruang terbuka.

Karena, kantor teknis tidak mengekspos rencana untuk kegiatan ini. “Saya tidak tahu dari awal.

Ketika melihat kondisi seperti ini, itu menunjukkan kurangnya perencanaan yang matang.

Komisi III hanya percaya, karena ada tim teknis yang mengontrol lapangan. Tapi hasilnya? “keluh Heri.

Idealnya, katanya, pembangunan harus berwawasan lingkungan meski harus memperhatikan unsur estetika.

Namun, dengan menggunakan bahan-bahan plastik ini, mereka dipandang tidak ramah lingkungan.

“Apa fungsinya? Seolah-olah tidak menunjukkan sisi pendidikan memberi contoh bagi masyarakat untuk ikut serta dalam penghijauan,” jelasnya.

Politisi PKS menyarankan bahwa dalam pembangunan masa depan tidak akan lagi terjadi seperti pengaturan jalan median.

Sisi perencanaan harus dipertimbangkan dengan hati-hati, sehingga keluaran dari pelaksanaan pekerjaan tidak berakhir dengan keluhan publik.

“Biasanya ada beberapa program yang diekspos. Karena ini tidak, kami percaya itu, tentu saja ada ahli. Anda tidak perlu diberitahu tentang masalah lingkungan,” katanya.

Source : Radar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.