Tasikmalaya | Lingkar Utara Memilih Bungkam

Tersangka permasalahan penggelapan dana pembebasan jalur Lingkar Utara, D tidak mengiyakan atau menyangkal atas permasalahan yang dituduh kan kepadanya.

Tasikmalaya | Lingkar Utara Memilih Bungkam

Source Radar

Hal itu dinyatakan D ketika mem­besuknya di Lapas Klas II B Tasik­malaya. Terlihat dia terbit dari blok tahanan wanita yang terpisah dari narapidana laki-laki.

Ketika bertemu, D langsung mengulurkan tangan, menyuruh bersalaman. Kemudian duduk di suatu bangku layaknya pengunjung dengan tahanan atau penduduk binaan.

Menanggapi permasalahan yang menjeratnya sampai mendekam di balik jeruji besi, D tak mau berkomentar. Meskipun permasalahan ini membina opini yang menyudutkannya sebagai koruptor. “Saya tidak inginkan ngasih komentar apa-apa,” katanya Kamis (22/11).

Pensiunan Pegawai Pengadilan Negeri Tasikmalaya tersebut merekomendasikan supaya wawancara untuk kuasa hukum berhubungan permasalahannya. Karena, kata D, sejumlah 16 pengacara yang bakal mendampinginya menjalani proses hukum. “Langsung saja ke pengacara, Ecep dan kawan-kawan,” ungkapnya.

Ditanya soal kondisinya ketika ini, secara jasmani D menyatakan sehat. Tentang proses hukum yang sedang dibuntuti dan dijalaninya pun, dia menyikapi dengan benak yang bening dan kepala dingin. “Insya Allah saya tegar menghadapi ini,” katanya.

Meski, dirinya tidak menduga sebagai pensiunan panitera yang sebelumnya bersangkutan dengan Lapas sebab urusan tugas, kini menjadi penghuninya. D pun telah mulai mengakrabkan diri terutama dengan tahanan dan narapidana wanita di lokasi itu.

Kalapas Klas II B Tasikmalaya Tunggul Buwono menilai tidak terdapat perbedaan menonjol antara D dengan tahanan/narapidana wanita lainnya. Tersangka, kata Tungguk, kooperatif mengekor sistem di dalam Lapas. “Biasa saja, tidak depresi atau gimana,” ujarnya.

Dalam blok perempuan itu, D dibulatkan dengan pelaku durjana lainnya dari mulai penyalahguna narkoba, pencuri, penipu, pelaku pelanggaran ITE, dan permasalahan perlindungan anak. “Ada 20 tahanan dan napi perempuan dibulatkan dalam satu blok,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, diprosesnya D, sebagai tersangka permasalahan penggelapan dana pembebasan lahan jalur Lingkar Utara (Lingtar), tidak menggugurkan kewajibannya mengembalikan duit yang digelapkannya. Bahkan Pensiunan Pengadilan Negeri Tasikmalaya tersebut pun dalam bahaya denda yang tidak sedikit.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Tasikmalaya Masmudi SH menerangkan duit yang digelapkan D adalahuang negara. Maka perlu dikoleksi kembali dan di berikan kepada negara, untuk diserahkan kepada masyarakat yang berhak. “Itu kan (dana yang digelapkan, Red) haknya semua pemilik lahan, ya mesti dikembalikan,” ungkapnya, Rabu (21/11).

Untuk itu, kata dia, pihaknya terus mencari kemana aliran dana dari dana yang digelapkan D. Namun Masmudi tidak dapat membeberkan secara detail, karena urusan tersebut adalahmateri persidangan. “Yang jelas istilahnya tersebut kita follow the money,” tuturnya.

Setelah peta aliran pemakaian dana itu diketahui, kata Masmudi, Kejaksaan bakal segera mengerjakan sita. Sekalipun dana tersebut telah berubah format baik barang maupun aset usaha. “Tentu akan anda sita, bila pun dananya dijadikan modal usaha, asetnya akan anda sikat,” terangnya.

Terkait motif dari penggelapan dana konsinyasi yang dilaksanakan D, Masmudi pun tak mau buka suara. Pihaknya melulu menekankan apa yang dilaksanakan oleh D telah adalahtindak pidana. “Yang jelas dia telah menggunakan duit yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Source : Radar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.