LIPI Mengembangkan Baterai Lithium dari Tempurung Kelapa

LIPI Mengembangkan Baterai Lithium dari Tempurung Kelapa.Peneliti dari Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI)(Achmad Subhan) tengah mengembangkan baterai lithium dengan elektroda yang terbuat dari bahan baku tempurung kelapa.

Menurut Subhan, tempurung kepala mengandung karbon aktif yang bisa digunakan sebagai zat aditif dalam proses pembuatan elektroda.

“Bahan zat aditif karbon ini digunakan untuk meningkatkan nilai konduktifitas listrik baik ionik maupun elektronik,”
Selain tidak menggangu lingkungan, penggunaan tempurung kelapa ini dianggap bisa meningkatkan nilai kapasitas dan kemampuan daya yang lebih tinggi. Di sisi lain, biaya yang dibutuhkan lebih rendah dari bahan baku lain.

Subhan menyebutkan proses membuat karbon aktif yang sesuai bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri baterai.

“Pengembangan dari proses pembuatan biomas menjadi karbon aktif dalam
skala industri perlu dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan aplikasinya dalam proses fabrikasi baterai lithium,” ungkapnya.

Di sisi lain itu, Agung Imaduddin, peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material(LIPI) juga mulai mengembangkan material superkonduktor untuk memenuhi masukan listrik di Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral(ESDM), pemakaian listrik Indonesia pada 2017 mencapai 1.012 kilowatt per hour (KWH)/ kapita, atau naik 5,9 persen dari tahun sebelumnya.

Agung menerangkan sejak 2010 lalu permintaan superkonduktor di pasar global sangat meningkat signifikan, khususnya superkonduktor tipe High Temperature Superconductors (HTS). Padahal, bahan baku HTS sangat berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai bahan pendukung teknologi maju.

Bahan baku HTS yang memiliki critical temperature tinggi dan berbahan baku banyak yang dimiliki oleh Indonesia adalah jenis Bi-Sr-Ca-Cu-O atau disebut BSCCO.

“LIPI telah melakukan penelitian mengenai superkonduktor pada tahun 2006 dengan menggunakan bahan Nb3Sn, Bi-Sr-Ca-Cu-O, MgB2, dan FeSeTe. Hasilnya berupa rupa-rupa kawat superkonduktor,” jelasnya.

Untuk bisa mengembangkan ke skala industri, Agung mengakui jika pihaknya butuh kerja sama untuk membuat kawat superkonduktor dengan skala lebih panjang untuk kebutuhan trafo dan kabel transmisi listrik tegangan tinggi tersebut.

About Amir MS