46 Orang Personil Polri Hilang Akibat Gempa Dan Tsunami

Polri menyebutkan bahwa 46 personilnya belum ditemukan setelah gempa dan tsunami yang melanda Kota Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah. Sebelumnya jumlah personel yang dilaporkan hilang mencapai 58 orang.

“Mereka yang belum ditemukan hingga verifikasi adalah 46 orang. Dari 46 orang masih diidentifikasi apakah orang yang bersangkutan masih di Palu atau di luar Palu,” kata Kepala Biro Informasi Publik Nasional, Brigjen. Jenderal Dedi Prasetyo, Jumat (12/10).

Dedi mengatakan bahwa hingga 14 hari setelah bencana, pihaknya terus mencari dan menemukan anggota yang dinyatakan hilang. Menurutnya, ada dua kemungkinan personel yang hilang.

“Apakah mereka korban atau meninggalkan Kota Palu,” kata Dedi.

Dedi mengatakan dia mencoba menghubungi mereka melalui ponsel. Namun hingga saat ini belum ada jawaban. Demikian pula, ketika kerabat mencari keberadaan mereka, hasilnya nol.

Namun, menurut Dedi, dalam melakukan pencarian, ada batasan waktu sesuai dengan Peraturan Kepolisian Nasional agar anggotanya dinyatakan hilang. Nantinya, para prajurit akan diberikan promosi.

“Nanti hanya akan dikeluarkan oleh Perkap yang menyatakan hilang.” Anumerta akan diberikan secara anumerta, “kata Dedi.

Sementara itu, terkait dengan layanan pembuatan Sertifikat Catatan Polisi (SKCK) di Sulawesi Tengah, sudah mulai beroperasi secara normal setelah gempa bumi dan tsunami.

Ini karena SKCK adalah salah satu syarat untuk pendaftaran CPNS 2018.

“Di sana, SKCK bisa dilayani di sana dari kantor polisi ke Polda. Kebutuhan untuk SKCK adalah mutlak karena ada CPNS,” jelas Dedi.

Selain itu, layanan bagi masyarakat untuk membuat dan memperpanjang SIM (SIM) juga berjalan normal di Kabupaten Donggala, dan Sigi. Namun, Dedi mengatakan layanan itu tidak bisa dilakukan di Kota Palu.

“Perpanjangan SIM, terutama di kantor polisi Donggala dan Sigi, sudah bisa dilakukan, tetapi Polda Palu belum,” jelasnya.

Dedi mengatakan, Polda Palu masih menunggu pengiriman alat dari Korps Lalu Lintas Polri (Korlantas) akibat gempa dan tsunami, infrastruktur Samsat di sana benar-benar hancur.

“Menunggu peralatan dari Korlantas. Layanan di Samsat benar-benar hancur, peralatan layanan pun terganggu. Sebab pelayanannya belum optimal,” tutupnya.

Source : Radar